DUA CARA DIAGNOSA PENYAKIT PADA PASIEN !

Setiap kegiatan yang dilakukan untuk pengobatan, tidaklah mungkin kita mengawalinya denganlangsungmemberikansolusiterkaitpenyakit yang diderita pasien.
Langkah yang harus dilakukan pertama-tama adalah melakukan diagnosa kepada orang tersebut. Diagnosa atau diagnosis merupakan salah satu cara untuk menentukan jenis penyakit berdasarkan kita meneliti atau memeriksagejalayangdialamiseorang pasien. Kita tidaklahmungkinmembukapengobatan tanpa melakukan diagnosa.
Seperti yang disampaikan di awal, kita harus memberikan pasien kesempatan untuk mencerita- kan permasalahan yang dialaminya terkait penyakit yang dideritanya.
CARA PERTAMA untuk melakukan diagnosa adalah mengetahui bagaimana kejiwaan atau mental pasien terhadap penyakit yang dideritanya.
Kisah yang telah dijelaskan di awal bisa menjadi salah satu contoh. Bagaimana sikap pasien terkait solusi pengobatan terhadap penyakitnya yang akhirnya diketahui, mentalnya atau jiwanya yang kurang istiqomah.

CARA KEDUA adalah menanyakan kepada pasien terkait apa saja makanan atau minuman yang dikonsumsinya. Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam menyampaikan terkait sumber penyakit yang ada di perut akan ditemui dari makanan.
Dari Al-Miqdam bin Ma’dikarib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada tempat yang lebih jelek daripada memenuhi perut keturunan Adam. Cukup keturunan Adam mengonsumsi yang dapat menegakkan tulangnya. Kalau memang menjadi suatu keharusan untuk diisi, maka sepertiga untuk makannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. Imam Ahmad, Ti- rmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan) [HR. Ahmad, 4:132; Tirmid-zi, no. 2380; Ibnu Majah, no. 3349. Syaikh Syuaib Al- Arnauth mengatakan bahwa perawi hadits ini tsiq- qah, terpercaya].
Sementara kita juga bisa menanyakan terkait ma- kanan yang dikonsumsi pasien apakah makanan yang baik atau buruk. Perlu diketahui, pendiagnosis juga perlu memberikan pengertian bagaimana makanan yang halal dan juga tayib.
Hal ini berhubungan dengan apa yang difirmankan
Allah dalam surah Abasa, maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Pada Ayat tersebut Allah ingin menjelaskan ayat-ayat-Nya yang mengisyaratkan pada karunia-Nya dan rahmat-Nya kepada hamba-Nya serta nikmat yang dilimpahkan kepada mereka, bagai- mana Allah menganugerahkan kepada mereka rezeki makanan yang dari mereka memperoleh gizi untuk tu- buh mereka, dari manakah datangnya makanan ini?

Leave a Reply